Sutrisno
Sutrisno
Sutrisno pemuda dari Malang, Jawa Timur, pendiri Leswan Leather (2019) yang mengangkat motif batik nusantara ke dalam produk tas kulit melalui teknik grafir dan cutting laser. Selain menjalankan usaha, Sutrisno aktif di komunitas dan mendorong pelaku kriya lokal untuk naik kelas lewat kolaborasi, standardisasi produk, dan pemasaran digital. Bagi Sutrisno, regenerasi kriya kulit tidak berhenti pada pelestarian motif tradisional, tetapi juga pada bagaimana teknologi dari laser presisi hingga kecerdasan buatan untuk konten storytelling dipakai agar warisan budaya ini relevan dan bertahan di pasar generasi baru.
Tas Batik Laser Cut
Leswan Leather
Sutrisno
2019
Jl. Danau Giji C5-C4, Kelurahan Lesanpuro, Kec. Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur
https://leswan.co.id
https://www.instagram.com/leswanleather
https://www.tiktok.com/@leswanleather
Leswan Leather berdiri sejak 2019 di Sawojajar, Kota Malang, dengan misi menjembatani warisan motif batik dengan gaya hidup modern lewat produk tas kulit. Setiap tas mengangkat motif batik khas nusantara yang dipindahkan ke permukaan kulit menggunakan teknik grafir laser (laser engraving) dan laser cutting presisi tinggi menggantikan proses cap manual yang terbatas dengan hasil detail motif yang konsisten dan lebih halus. Leswan menyasar konsumen perempuan usia 30 tahun ke atas yang mencari produk fungsional namun tetap membawa identitas budaya. Di luar produksi, Leswan juga menjadi bagian dari ekosistem kriya Jawa Timur melalui keterlibatan aktif di ASEPHI Jawa Timur dan komunitas Tangan Di Atas (TDA) Malang.
Produk unggulan Leswan adalah tas kulit dengan motif batik yang digrafir menggunakan mesin laser, sehingga detail motif tradisional yang biasanya sulit direplikasi presisi dengan cap manual bisa tampil konsisten pada permukaan kulit asli. Teknik laser cut juga dipakai untuk detail ornamen dan pola berlubang bergaya batik pada beberapa lini produk. Sebagai pelengkap tambahan, sisa potongan kulit (leather offcut) dari proses produksi tas tidak dibuang, namun diolah kembali menjadi bagcharm dan aksesori kecil, sehingga hampir tidak ada material kulit yang terbuang percuma dan mengotori lingkungan. Untuk penggunaan digital, konten edukasi dan storytelling produk Leswan sudah 2 tahun sejak 2024 memanfaatkan teknologi AI voice generation sebagai pengisi suara narasi proses pembuatan dan kisah di balik tiap motif. Hal ini mempercepat produksi konten tanpa mengorbankan kualitas cerita budaya yang disampaikan dan dapat dilakukan kapanpun.
Pameran Inacraft di JICC, Pameran Fesyar Bank Indonesia, Pameran Rona Pesona Bank Indonesia Malang, Pameran Inacraft Festival di Jogjakarta.
Belum pernah, menjadikan partisipasi pameran internasional sebagai target pengembangan brand dalam waktu dekat.
Leswan menerapkan prinsip minim limbah di lini produksinya. Sisa potongan kulit (offcut) yang terbuang kini dikumpulkan dan diolah kembali menjadi bagcharm serta aksesori kecil lain, memperpanjang usia pakai setiap lembar kulit yang masuk ke workshop. Pendekatan ini sejalan dengan semangat circular economy di industri kriya dalam mengurangi sampah produksi sekaligus membuka lini produk baru yang terjangkau bagi konsumen.
Institut Teknologi Sepuluh Nopember fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital Departemen Desain Produk Industri dalam hal penempatan mahasiswa magang, Universitas Brawijaya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kolaborasi kerjasama bidang kewirausahaan bersama mahasiswa Ilmu Komunikasi, Studi dan Visit UMKM bersama Universitas Negeri Malang Fakultas Ekonomi dan Bisnis jurusan Magister Manajemen.
Prinsip keberlanjutan Leswan berpusat pada pemanfaatan penuh bahan baku kulit: potongan sisa dari produksi tas utama tidak dibuang, melainkan diolah menjadi bagcharm dan aksesori bernilai jual, sehingga limbah produksi ditekan seminimal mungkin (menuju pendekatan zero-waste manufacturing). Proses produksi juga melibatkan pengrajin lokal Malang, mendukung keberlanjutan ekonomi komunitas kriya di sekitar workshop, sejalan dengan semangat regenerasi kriya kulit yang diusung Leswan.
Dalam 10 tahun ke depan, saya membayangkan Leswan Leather menjadi rujukan tas kulit bermotif batik dari Malang yang dikenal luas di pasar nasional maupun ekspor, dengan proses produksi yang sepenuhnya minim limbah dan melibatkan lebih banyak pengrajin muda lokal. Saya juga ingin terus berperan lewat ASEPHI Jawa Timur untuk mendorong pengrajin kriya lain memakai teknologi dari mesin laser presisi hingga AI untuk storytelling dan pemasaran agar warisan budaya Indonesia bisa terus beregenerasi dan relevan bagi generasi berikutnya, tanpa kehilangan akar budayanya.


