Arka Irfani adalah Founder dan Direktur Utama Bell Living Lab (PT Kurva Lonceng Khatulistiwa), sebuah startup biomaterial asal Bandung yang mengubah limbah pertanian, terutama limbah kopi seperti kulit, parchment, dan ampas, menjadi material berkelanjutan bernilai ekonomi tinggi. Berlatar belakang S.Si Biologi dengan fokus Inovasi Material, Arka membangun Bell sebagai model bisnis yang memadukan dampak lingkungan (pengalihan limbah), dampak sosial (pelatihan vokasi dan penghasilan tambahan bagi komunitas petani kopi mitra), dan keberlanjutan komersial. Di bawah kepemimpinannya, Bell telah profit dua tahun berturut-turut, meraih Good Design Award (Good Design Indonesia x G-Mark Japan) untuk kategori Design of the Year 2024, serta mendapat pengakuan sertifikasi PETA-Approved Vegan dan USDA Biobased.
Tongkonan Table Lamp & Morph Folding Bag, produk ramah lingkungan berbasis material limbah kopi
Bell Living Lab adalah perusahaan biomaterial berbasis di Bandung yang mengubah limbah pertanian, terutama limbah kopi, menjadi material berkelanjutan pengganti kulit dan busa konvensional. Bell bermitra dengan komunitas petani kopi (saat ini 3 komunitas dengan target 15 komunitas, masing-masing sekitar 60–100 petani) untuk menyerap limbah sekaligus membuka sumber penghasilan dan pelatihan vokasi baru bagi mereka. Dengan tim yang kini berjumlah 24 orang dan terus bertumbuh menuju 50 orang, mayoritas direkrut dari komunitas petani mitra, Bell memegang prinsip bahwa material berkelanjutan seharusnya bukan pilihan, melainkan standar.
1. Table Lamp menghadirkan warisan budaya Indonesia ke dalam desain berkelanjutan, terinspirasi dari siluet lengkung atap rumah adat Tongkonan suku Toraja, dibentuk dari M-Tex (coffee leather) yang dilipat dan ditekuk secara handmade di Bandung, dipadukan dengan Kalpa (komposit limbah kopi) dan kayu jati. Pada bagian badan lampu digunakan lembaran C-Foam tipis yang terbuat dari ampas dan gabah kopi, menambah dimensi material daur ulang pada produk ini. Teknik lipat ini bukan hanya menciptakan bentuk khas yang indah, tapi juga memberi struktur yang kokoh pada material. Tongkonan Table Lamp: https://drive.google.com/drive/folders/1zWbabpF8ig5T2oif3yVy7rqHG8yFS0s7?usp=drive_link Folding bag: https://drive.google.com/drive/folders/1f-ySC0VUjYhhAUA3mBPBoD3SWNlEHX8k?usp=drive_link 2. Morph Folding Bag adalah tas convertible sehari-hari berbahan M-Tex™, biomaterial signature Bell dari limbah kopi yang diupcycle. Bisa digunakan sebagai sling ringkas atau dilipat menjadi tote yang lebih besar sesuai kebutuhan, dengan tali yang dapat diatur dan dilepas, saku dalam, serta jahitan tangan dengan detail signature Bell. Dibuat di Indonesia.
Bell Living Lab telah berpartisipasi dalam IFEX (Indonesia International Furniture Expo) 2023, 2024, 2025, dan 2026, serta JIA Curated 2025 dan 2026 di Bali. Pada JIA Curated 2026 di Pengembak Beach, Sanur (13-17 Agustus 2026), Bell tampil dengan konsep booth "Locus of Peace" dan kolaborasi "Good Streams" bersama Roemah Koffie, mengangkat transformasi limbah kopi menjadi nilai melalui tiga pilar: Adding Value, Co-existence, dan Positive Impact.
Bell Living Lab telah berpartisipasi dalam sejumlah pameran dan panggung internasional, di antaranya Salone del Mobile (Milan, 2024 & 2026), World Expo Osaka 2025, FIND Design Fair Asia (Singapura, 2025), Next in Fashion in Style 2026, serta Innovation Spotlight CIIP (Catalytic Impact Investing Platform, didirikan oleh Temasek Trust sebagai anchor partner UNDP SDG Impact di Asia) dalam Philanthropy Asia Summit 2026. Pameran JIA: https://drive.google.com/drive/folders/1c3Nd2bo6Oa8s_5XhXLxuZMj_7_DmrzPm?usp=sharing Pameran Next in Fashion: https://drive.google.com/drive/folders/1kPeBCLIuPodWmftW9dHrngwvxtQT9pY7?usp=drive_link
Bell mengalihkan limbah pertanian (kulit kopi, parchment, ampas) yang sebelumnya terbuang menjadi bahan baku material bernilai tambah, sekaligus membangun kemitraan langsung dengan komunitas petani kopi untuk pelatihan vokasi dan penghasilan tambahan, memadukan dampak lingkungan dan sosial dalam satu rantai nilai. Secara langsung, Bell mengumpulkan sekitar 1 ton limbah kopi per bulan untuk diolah menjadi material, sekaligus meningkatkan pendapatan petani mitra hingga 10%.
Bell adalah anggota kohort akselerator sosial I-SEA milik IKEA, dengan pendampingan dari David Vine (Development Leader, IKEA Sweden) untuk eksplorasi kolaborasi produk, serta mendapat pendampingan dari Alam Indrawan (CEO PT Rekacipta Inovasi ITB) melalui program ADB Primestep. Dalam pengembangan produk dan pameran, Bell berkolaborasi dengan Roemah Koffie dan Studio Banda Bali (pembuatan kursi), Pala Nusantara (pembuatan jam), Sukkha Citta (aksesori fashion), dan Sejauh Mata Memandang (koleksi fashion untuk Indonesia Fashion Week 2024).
Keberlanjutan adalah inti dari model bisnis Bell, bukan tambahan: setiap lembar M-Tex menyerap sekitar 20 kg limbah kopi dan setiap meter persegi Kalpa menyerap sekitar 12,5 kg limbah kopi yang sebelumnya menjadi sampah pertanian. Material Bell telah tersertifikasi PETA-Approved Vegan dan USDA Biobased, dan produksinya dirancang untuk terus memperluas kemitraan dengan komunitas petani kopi sebagai sumber bahan baku sekaligus penerima manfaat langsung.
Dalam 10 tahun ke depan, Bell Living Lab akan menjadi leader dalam material sustainable dunia, memanfaatkan limbah-limbah yang dihasilkan oleh berbagai sektor agrikultur di Indonesia. Bell akan menjadi brand sustainable yang mampu merambah kancah dunia, dengan setiap produk yang dibuat memberikan dampak nyata bagi lingkungan, bagi komunitas petani mitra, dan bagi industri material global. Bell juga akan berkontribusi dalam penggunaan Paten dan IP dalam pengembangan produk.